Oleh: atmtukang | November 13, 2008

Ada kamu di Bola Mataku

Fyr,

> Ada Kamu Di Bola Mataku

> Oleh : Ade Anita

>

> Beberapa teman sering bertanya padaku, apa enaknya menjadi ibu rumah

> tangga yang hanya berdiam saja di rumah. Dalam hal ini, mereka yang

> bertanya lebih banyak membandingkan profesiku saat ini yang memang seorang

> ibu rumah tangga yang berdiam diri di rumah dengan profesi mereka yang

> berkarir di luar rumah. Ada yang jadi pegawai bank, ada yang jadi

> konsultan, wartawan, pialang saham, dosen, event organiser atau programmer

> komputer. Pagi-pagi mereka akan menyapaku melalui telepon genggam mereka.

> Suara merdu mereka akan terseling oleh suara lembut ac dan alunan musik

> yang keluar dari tape recorder mobil yang mereka kendarai. Atau terseling

> oleh suara klakson lalu lintas jalan raya yang sedang mereka lewati. Itu

> jika mereka menyapaku pagi hari. Jika siang hari, maka suara merdu dan

> senda gurau mereka terdengar di teleponku bersisian dengan suara tombol

> keyboard komputer yang mungkin sedang mereka plototi atau terseling suara

> derit kertas yang keluar dari mesin printer. Atau diseling dengan jeda

> suara sesama karyawan yang menanti perintah macam-macam.

>

> “Khoir…masihkah kamu berperan sebagai upi abu saat ini?” Itu salah satu

> guyonan teman-temanku menggodaku. Upik abu adalah sebutan untuk Cinderella

> ketika dia belum bertemu dengan pangeran yang menjadikannya permaisuri

> kerajaan. Disebut upik abu karena hanya melulu bertemu dengan abu dapur

> dan abu debu rumah. Yup. Kebanyakan temanku kini memang sudah menduduki

> posisi yang lumayan di tempat kerjanya masing-masing. Alhamdulillah.

> Tinggal satu orang yang tampaknya masih senasib sependeritaan denganku.

> Sama-sama memilih untuk menjadi ibu rumah tangga. Dia adalah Zaenab.

> Suaminya meminta dia untuk berdiam di rumah dan mengurus anak-anaknya.

>

> Pada awal perkawinannya, Zaenab tampaknya bisa menerima komitmen ini

> dengan sangat ikhlas. Dia tinggalkan semua kegiatannya sebagai seorang

> aktivis kampus. Pun dia tinggalkan juga kesempatan untuk berkarir di luar

> rumah. Asal tahu saja, Zaenab adalah seorang muslimah cerdas dan sangat

> membanggakan teman-teman di lingkungan kampus. Prestasinya seambreg,

> bakatnya setumpuk dan semangatnya selalu melambung tinggi menggapai

> awan-awan putih di langit biru yang cerah.

>

> Beberapa tahun berlalu sejak perkawinannya yang sederhana berlangsung.

> Jarak dan waktu memisahkan jalinan persahabatanku dengan Zaenab. Aku

> mengikuti suamiku tinggal di luar negeri. Setelah beberapa tahun akhirnya

> kami bertemu kembali. Tapi, ada sesuatu yang berubah padanya. Ada sesuatu

> yang terlihat hilang dari sosok Zaenab ketika aku bertemu dengannya untuk

> pertama kalinya. Sesuatu itu adalah keceriaan dan semangat untuk menggapai

> cita-cita yang selalu digantungnya tinggi-tinggi di cakrawala masa depan.

>

> “Lagi ngapain Nis? Aku bosan nih di rumah. Bingung pula mau masak apa hari

> ini? Kamu masak apa hari ini?” Suara Zaenab seperti biasa menyapaku di

> siang hari lewat telepon. Hanya dia yang selalu memanggilku Nisa,

> teman-temanku yang lain kebanyakan memenggal nama depanku saja, Khoir,

> dari nama panjangku Khoirunnisa.

>

> “Aku lagi baca buku dan belum masak. Maklum, masih nggak ada ide mau masak

> apa, nanti saja, dadakan. Biasanya kalau dah terjepit suka muncul ide

> cemerlang yah kalau bener-bener kepepet paling juga aku nyontek menu di

> warteg.”

>

> “Nyontek menu di warteg? Beli makanan di warteg maksud kamu?”

>

> “Yee, itu mah beli bukan masak. Nggak, ini asli nyontek. Jadi kamu pergi

> ke warteg terdekat terus lihat, mereka nyediain masakan apa saja hari ini.

> Menu yang paling kamu pinginin itu yang akhirnya kamu masak di rumah.

> Sambil bayangin, bahwa kamu dah hemat sekian rupiah dengan masak sendiri,

> nanti juga jadi semangat sendiri kok buat masak insya Allah.” Zaenab

> tertawa mendengar penjelasanku.

>

> “Ya, seperti dulu yah. Waktu kita kuliah dulu. Kamu memang tidak berubah

> Nisa, selalu sukses menerapkan sistem kebut semalam dan metode instan.

> Sayangnya aku tidak seperti kamu. Aku tidak terbiasa bersikap cuek seperti

> itu. Aku terbiasa merencanakan segala sesuatu sebelumnya secara seksama

> dan penuh perhitungan.”

>

> “Iyah, aku tahu. Berarti sekarang kamu sebenarnya sudah beres semua dong

> dengan urusan rumah?” Terus terang, sebenarnya aku sedikit tersinggung

> dikecilkan seperti itu. Tapi itu memang kenyataan. Semua teman di kampus

> dulu tahu bagaimana santai dan uniknya cara aku belajar dan mempersiapkan

> segala sesuatunya. Pada akhrinya aku tersenyum, bersyukur masih ada yang

> mengingatkan betapa bodohnya aku selama ini dengan segala kebiasaan buruk

> yang ternyata masih saja aku terapkan. Aku memang orang yang tidak pernah

> bersedia harus merasa dikejar-kejar “setoran” dalam mengerjakan segala

> sesuatunya meski waktu yang tersedia memang sudah diambang batas akhir.

> Mungkin orang lain akan mengatakan aku orangnya slow dan moodi banget. Ah,

> terserah orang lain mau bilang apa.

>

> “Nah itu dia Nis,” Zaenab memotong lintasan pikiran yang ada di kepalaku.

> Dengan suara menggebu Zaenab melanjutkan curhatnya.

>

> “Aku bosan dengan segala sesuatu yang sebenarnya sudah aku hapal

> kejadiannya. Aku sudah hapal dengan semua tetek bengek urusan rumah

> tanggaku. Jam segini masak, jam segini ngepel, jam segini nyuci baju. Wah,

> aku sudah hapal dan ternyata hapalanku ini tidak bertambah dan tidak juga

> membuatku pandai. Aku jenuh jadi ibu rumah tangga, dan aku heran mengapa

> kamu belum jenuh dengan pekerjaan kamu saat ini Nis?” PLASHHH!! Seguyur

> air dingin rasanya seperti tersiram ke depan mukaku siang itu. Bagaimana

> mungkin muslimah “seikhlas” Zaenab bisa merasa jenuh dengan tugas dari

> pekerjaan mulia yang dahulu selalu dia agung-agungkan dan dia anjurkan

> pada banyak teman dan adik kelas kami?

>

> “Ayo Nisa…. Aku tahu kamu lebih mencintai bersenang-senang daripada

> terperangkap dalam kurungan rumah yang selalu memberi pekerjaan yang tiada

> pernah berhenti? Jujur.. kamu bosan juga kan?” Aku terdiam mendengar

> pertanyaannya. Entah harus menjawab apa. Bosankah aku? Kini justru aku

> yang berbalik bertanya pada diriku sendiri.

>

> “Zaenab, bukankah dibanding aku, kamu punya lebih banyak kegiatan dakwah

> lain di luar rumah? Iya kan? Coba deh ingat-ingat. Kamu mengkoordinasi

> ibu-ibu pengajian di sekitar rumah kamu setiap dua kali seminggu di

> masjid. Kamu juga mengajarkan anak-anak kecil di sekitar rumah kamu untuk

> mengaji setiap sore? Kamu salah bertanya seperti itu padaku. Aku bahkan

> tidak memiliki semua kegiatan itu. Aku sangat jarang ke luar rumah dan

> tidak punya banyak teman dalam pergaulan. Temanku hanyalah buku-buku

> bacaan dan internet. Aku bahkan tidak ikut kegiatan organisasi apapun di

> luar rumah. Pun tidak punya amanah apapun di luar rumah sana.” Sambil

> mengatakan semua fakta itu padanya, aku seperti tersadarkan pada sebuah

> kenyataan yang sebenarnya sedang aku genggam. Yup. Ternyata aku memang

> seorang upik abu yang tidak pernah bisa jadi Cinderella. Aku adalah upik

> abu sesungguhnya dan tampaknya akan selamanya. Tapi tidak ada waktu untuk

> mengenang kemalangan. Karena di seberang teleponku itu mulai terdengar

> suara isak tangis tertahan dari Zaenab. Ya Allah, dia rasanya memang

> sedang mengalami sebuah kebosanan jadi ibu rumah tangga yang sangat

> dasyat.

>

> Kebosanan Zaenab sangat bisa aku mengerti. Coba bayangkan jika kalian

> setiap hari mengerjakan sebuah pekerjaan yang sama terus menerus tapi tak

> ada sebuah penghargaan apapun yang bisa diperoleh. Tidak ada sebuah

> standard gaji atau penghasilan tertentu bagi sebuah profesi ibu rumah

> tangga.

>

> Taruh permisalan seperti ini. Sepanjang hari merapikan rumah dan

> mempersiapkan diri menyambut suami tercinta pulang dari kantor. Dalam

> benak, sudah terbayang bahwa suami akan bahagia mendapati rumah dalam

> keadaan rapi dan wangi dan seluruh anggota keluarga dalam keadaan bersih

> dan rapi. Tapi di lima menit terakhir penantian itu, tiba-tiba si bungsu

> menumpahkan susu di atas karpet dan bekasnya melebar ke seluruh permukaan

> karpet; karena kaget dia menangis histeris meraung-raung. Sementara

> kakaknya memecahkan piring yang berisi makanan berkuah di atas lantai

> hingga bukan hanya beling yang tersebar tapi juga nasi dan seluruh

> personilnya ikut mengotori lantai dan baju yang dia kenakan. Sementara

> seekor kucing berhasil melarikan ikan goreng yang menjadi lauk pauk

> satu-satunya untuk makan malam disamping gulai daun singkong dan sambal.

> Di tengah semua kepanikan itu, mustahil jika kalian tidak merasakan hawa

> kemarahan yang langsung memuncak ke atas ubun-ubun sehingga wajah yang

> semula disetel manis menjadi masam dan penampilan yang rapih berubah

> menjadi kusut masai. Ditunjang dengan rasa lelah mengurus rumah yang

> semula tertahan di dalam dada saja, kini muncul semua ke permukaan. Di

> saat itulah suami tercinta pulang. Tanpa bertanya langsung mengedarkan

> pandangan memperhatikan semua kejorokan dan kekurangan yang terjadi. Apa

> yang dikerjakan sepanjang hari ternyata tidak ada yang bisa dibanggakan

> sama sekali. Pun di depan orang terkasih sekalipun. Tidak ada lagi yang

> tahu sekarang bagaimana usaha sepanjang hari untuk bisa menjadi sempurna

> karena yang terlihat adalah hasil akhir yang sudah amburadul. Malu, sedih

> dan kecewa. Profesi ibu rumah tangga memang adalah profesi yang menuntut

> kesempurnaan, tapi tak ada piala atau kompensasi materi untuk kesempurnaan

> itu. Hanya memberi tidak boleh mengharapkan kembali.

>

> Sekarang, di seberang telepon aku sedang mendengar curahan hati seseorang

> yang lelah dan bosan menjalani tugas berat tersebut. Aku tidak mampu

> berkata apa-apa mendengar semua keluh kesah Zaenab. Mungkin yang terbaik

> adalah menjadi pendengar yang baik yang tidak memberi komentar apa-apa

> selain mendengar semua keluhannya.

>

> “Aku bosan banget jadi ibu rumah tangga. Rasanya setiap hari aku mengalami

> sebuah tindakan pembodohan diri sendiri.” Hm, siapa coba yang bisa tetap

> diam mendengar penuturan seperti ini? Aku sebagai seorang wanita yang

> menjalani profesi ibu rumah tangga tentu tahu pahit getir profesi yang aku

> jalani ini. Tapi biar bagaimanapun, ada sebuah loyalitas yang tumbuh tanpa

> aku sadari untuk membela profesiku. Mungkin membela diriku sendiri

> tepatnya.

>

> “Pembodohan? Aku nggak ngerti apa yang kamu maksud dengan pembodohan diri

> sendiri Zaenab?” Zaenab berhenti menangis. Suaranya mulai terdengar

> terkendali.

>

> “Aku tadi telepon-teleponan dengan teman. Wah, hebat. Dia sudah sangat

> berhasil di kantornya. Aku denger cerita dia dan kasus-kasus yang dia

> hadapi, penyelesaian masalahnya. Aku bukannya iri Nisa tapi aku merasa

> bahwa aku juga bisa menangani hal-hal seperti itu. Aku juga mampu kan Nis?

> Tapi apa yang aku lakukan sekarang? Cuma ngepel, nyuci, masak,

> membersihkan piring dan pipis si kecil. Itu kan namanya pembodohan? Aku

> kadang malu sama ayahku. Sekian lama menyekolahkan aku, tapi akhirnya aku

> berakhir seperti ini. Buat apa coba semua prestasi yang pernah aku raih

> selama ini? Semuanya mubazir kan Nis?” Suara Zaenab terasa memburu karena

> sarat dengan emosi. Mungkin unek-uneknya selama ini dia pendam sendiri dan

> baru bisa dikeluarkan sekarang sehingga rasanya berpacu dengan waktu untuk

> mengatakan segalanya.

>

> “Carikan aku pekerjaan Nisa. Tanya suami kamu jika di kantornya ada

> lowongan.” Akhirnya di ujung keluhan Zaenab meluncurkan sebuah permintaan

> yang membuatku terhenyak.

>

> “Bagaimana dengan suami kamu Zaenab? Apakah dia sudah mengijinkan kamu

> bekerja? Lalu anak-anak?” Aku bertanya hati-hati.

>

> “Hmm… Akang sudah mengijinkan. Dia juga bingung harus memberi apa lagi

> karena aku mengeluh bosan padanya. Aku memang asli bosan Nisa di rumah

> terus tanpa menghasilkan prestasi apa-apa.” Aku terdiam untuk berpikir.

>

> “Aku tahu suamiku punya sebuah proyek. Tapi ini proyek sukarela, tidak ada

> uangnya, apakah kamu mau bergabung bersama kami?” Zaenab menanyakan

> tempatnya dan aku menyebut sebuah tempat di pinggiran kota Jakarta.

>

> “Hmm, berat Nisa. Aku mau saja bergabung karena pasti bermanfaat buatku

> dan aku bisa meningkatkan lagi semua kemampuanku yang selama ini terbabat

> habis. Tapi, kalau tidak ada uangnya, berat rasanya. Bukannya mata duitan,

> tapi uang itu perlu sih Nisa, paling tidak ada sesuatu yang bisa aku

> tunjukkan pada orang lain apa yang aku hasilkan selama aku bekerja.” Aku

> terdiam dan permbicaraan berakhir tidak lama kemudian dengan meninggalkan

> keterpanaan di kepalaku.

>

> Pembicaraan terakhirku dengan Zaenab ini membuatku berpikir. Pada

> akhirnya, setiap manusia memang akan diuji dengan apa yang dipilihnya

> dalam menjalani hidup ini. Yang belum bisa aku mengerti sampai detik ini

> adalah, bagaimana ujian terhadap pilihan itu bisa begitu dasyat

> mempengaruhi seseorang dan merubah apa yang semula sudah dipilih dan

> diyakininya dengan teguh.

>

> Dulu Zaenab bukan dengan terpaksa berkomitment untuk ikhlas menjalani

> profesi ibu rumah tangga dan sedikit banyak hal itu memberi imbas semangat

> padaku untuk mengikuti jejaknya. Zaenab memang salah satu teman muslimah

> yang aku kagumi. Darinya aku belajar untuk bisa bersikap ikhlas. Sungguh,

> ujian terberat bagi profesi menjadi ibu rumah tangga adalah mengembangkan

> rasa ikhlas dalam diri.

>

> Sosok Zaenab dalam imajinasiku memang sudah berkembang pesat menjadi

> sangat mengagumkan. Mungkin karena aku sudah menambahkannya dengan sebuah

> cita-cita lain dalam anganku yang mencari figur yang layak ditiru. Tapi

> hari ini, lukisan imajinasi itu rasanya perlahan mulai retak dan

> retakannya berjatuhan berkeping-keping. Ada sebuah godaan untuk mulai

> melihat diri sendiri. Kenapa aku bisa bertahan untuk tetap berada di dalam

> rumah? Berapa kali aku merasa bosan dengan kehidupanku yang sangat monoton

> ini? Seberapa jauh proses pembodohan seperti yang dirasakan oleh Zaenab

> yang sudah aku alami sebenarnya? Duh…. Astaghfirullah. Susah payah

> rasanya menghalau pertanyaan-pertanya an yang hadir tanpa aku sadari ini.

> Tubuhku gemetar menahan laju pertanyaan itu agar tidak terus meraja lela

> dan akhirnya mengajakku menjadi sosok yang tidak mampu bersyukur. Bukankah

> kelak penghuni neraka akan banyak dihuni oleh wanita yang tidak mampu

> bersyukur terhadap kehidupannya dalam rumah tangganya sendiri?

> Astaghfirullahal Adziim.

>

> “Ibu.. ibu…” Sebuah suara nyaring dari gadis kecilku terdengar seiring

> dengan sebuah genggaman jemari kecil di pergelangan tanganku. Di depanku

> kini tampak gadis kecilku sedang tersenyum dengan rambut berantakan dan

> sebuah sisir di tangannya.

>

> “Sisiri aku bu.” Tangan mungilnya tampak menyorongkan sisir. Perlahan aku

> sisiri rambutnya yang jumlah helainya masih sangat tipis sebenarnya,

> sehingga jika tidak disisirpun angin akan merapikannya dengan segera.

> Setelah rapi, masih dengan wajah tersenyum, gadis kecilku tetap berdiri di

> hadapanku. Tidak ada tanda-tanda dia ingin segera berlalu untuk bermain

> dengan mainannya.

>

> “Ada apa nih? Kok diam di depan ibu saja yah?” Aku menyapanya dan mencoba

> untuk meraih tubuh mungilnya ke dalam pelukan. Gadis kecilku tidak

> berontak. Usianya baru tiga tahun dan dia sangat manja dan sering tampak

> menikmati curahan perhatian yang berlimpah yang ditujukan bagi dirinya.

>

> “Aku mau ngaca.” Singkat dia menjelaskan alasan kenapa dia tidak hendak

> pergi dari sisiku. Ngaca yang dimaksudnya adalah bercermin.

>

> “Ngaca? Dimana?” Aku menoleh kiri kanan mencari cermin dan tidak berhasil

> menemukannya. Cermin di rumahku memang hanya ada dua, di kamarku dan kamar

> anakku yang sulung, sedangkan aku saat ini ada di ruang keluarga.

>

> “Aku mau bercermin di mata ibu. Lihat, di mata ibu ada aku.” Subhanallah.

> Kini gadis kecilku itu benar-benar aku peluk kian erat. Untaian kalimatnya

> membuatku melayang tinggi mencapai awan putih di langit keharuan. Mungkin

> yang aku alami selama menjadi ibu rumah tangga memang hanya sebuah

> pekerjaan yang tidak pernah menghasilkan uang sama sekali. Pun memang

> profesi yang tidak menghasilkan prestasi yang membanggakan atau prestise

> yang mengharumkan namaku. Tapi kebahagiaan memang tidak bisa diukur dari

> ukuran baku yang sama pada setiap manusia. Aku bahagia dengan apa yang aku

> peroleh saat ini. Dan hari itu, siapapun tidak bisa merasakan kebahagiaan

> yang meluap yang aku peroleh dari gadis kecilku yang manis.

>

> “Iyah. Di mata ibu memang selalu ada kamu, karena di hati ibu, kamu adalah

> permata hati yang selalu ibu sayang selamanya.”

P.S: hanya bisa Meneruskan saja dari Milis(Semoga bisa jadi Renuangan Kita semua)


Responses

  1. Renungan yang sanga mengesankan…

    tapi aku punya pandanngan…saat kita memilih menjadi seorang ibu rumah tangga…jangan membanding-bandingkan antara kita dengan orang lain…tapi lakukan semua dengan iklas…dan hati yang bahagia.Setiap orang punya persepesi…yang kadang malah membingungkan…bahkan membuat kita membanding-bandingkan.Dalam setiap hal yang kita lakukan…lakukan dengan kasih dan cinta aku yakin akan dibalas dengan cinta juga oleh mereka.

    Salam…thanks sudah berbagi!

  2. tulisan panjang, tapi memberi pencerahan
    kasih ibu sepanjang jalan dan selama hayat
    dikandung badan

  3. panjang banget…
    baca ulang..

    ATM: :mrgreen:

  4. Ibu memang selalu menjadi sosok yang menenangkan..
    ada seuntai rindu yang dalam ketika aku berada jauh dari ibu..

    ATM:IBu……… 😦


Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s

Kategori

%d blogger menyukai ini: