Fyr,
> Ada Kamu Di Bola Mataku
> Oleh : Ade Anita
>
> Beberapa teman sering bertanya padaku, apa enaknya menjadi ibu rumah
> tangga yang hanya berdiam saja di rumah. Dalam hal ini, mereka yang
> bertanya lebih banyak membandingkan profesiku saat ini yang memang seorang
> ibu rumah tangga yang berdiam diri di rumah dengan profesi mereka yang
> berkarir di luar rumah. Ada yang jadi pegawai bank, ada yang jadi
> konsultan, wartawan, pialang saham, dosen, event organiser atau programmer
> komputer. Pagi-pagi mereka akan menyapaku melalui telepon genggam mereka.
> Suara merdu mereka akan terseling oleh suara lembut ac dan alunan musik
> yang keluar dari tape recorder mobil yang mereka kendarai. Atau terseling
> oleh suara klakson lalu lintas jalan raya yang sedang mereka lewati. Itu
> jika mereka menyapaku pagi hari. Jika siang hari, maka suara merdu dan
> senda gurau mereka terdengar di teleponku bersisian dengan suara tombol
> keyboard komputer yang mungkin sedang mereka plototi atau terseling suara
> derit kertas yang keluar dari mesin printer. Atau diseling dengan jeda
> suara sesama karyawan yang menanti perintah macam-macam.
>
> “Khoir…masihkah kamu berperan sebagai upi abu saat ini?” Itu salah satu
> guyonan teman-temanku menggodaku. Upik abu adalah sebutan untuk Cinderella
> ketika dia belum bertemu dengan pangeran yang menjadikannya permaisuri
> kerajaan. Disebut upik abu karena hanya melulu bertemu dengan abu dapur
> dan abu debu rumah. Yup. Kebanyakan temanku kini memang sudah menduduki
> posisi yang lumayan di tempat kerjanya masing-masing. Alhamdulillah.
> Tinggal satu orang yang tampaknya masih senasib sependeritaan denganku.
> Sama-sama memilih untuk menjadi ibu rumah tangga. Dia adalah Zaenab.
> Suaminya meminta dia untuk berdiam di rumah dan mengurus anak-anaknya.
>
> Pada awal perkawinannya, Zaenab tampaknya bisa menerima komitmen ini
> dengan sangat ikhlas. Dia tinggalkan semua kegiatannya sebagai seorang
> aktivis kampus. Pun dia tinggalkan juga kesempatan untuk berkarir di luar
> rumah. Asal tahu saja, Zaenab adalah seorang muslimah cerdas dan sangat
> membanggakan teman-teman di lingkungan kampus. Prestasinya seambreg,
> bakatnya setumpuk dan semangatnya selalu melambung tinggi menggapai
> awan-awan putih di langit biru yang cerah.
>
> Beberapa tahun berlalu sejak perkawinannya yang sederhana berlangsung.
> Jarak dan waktu memisahkan jalinan persahabatanku dengan Zaenab. Aku
> mengikuti suamiku tinggal di luar negeri. Setelah beberapa tahun akhirnya
> kami bertemu kembali. Tapi, ada sesuatu yang berubah padanya. Ada sesuatu
> yang terlihat hilang dari sosok Zaenab ketika aku bertemu dengannya untuk
> pertama kalinya. Sesuatu itu adalah keceriaan dan semangat untuk menggapai
> cita-cita yang selalu digantungnya tinggi-tinggi di cakrawala masa depan.
>
> “Lagi ngapain Nis? Aku bosan nih di rumah. Bingung pula mau masak apa hari
> ini? Kamu masak apa hari ini?” Suara Zaenab seperti biasa menyapaku di
> siang hari lewat telepon. Hanya dia yang selalu memanggilku Nisa,
> teman-temanku yang lain kebanyakan memenggal nama depanku saja, Khoir,
> dari nama panjangku Khoirunnisa.
>
> “Aku lagi baca buku dan belum masak. Maklum, masih nggak ada ide mau masak
> apa, nanti saja, dadakan. Biasanya kalau dah terjepit suka muncul ide
> cemerlang yah kalau bener-bener kepepet paling juga aku nyontek menu di
> warteg.”
>
> “Nyontek menu di warteg? Beli makanan di warteg maksud kamu?”
>
> “Yee, itu mah beli bukan masak. Nggak, ini asli nyontek. Jadi kamu pergi
> ke warteg terdekat terus lihat, mereka nyediain masakan apa saja hari ini.
> Menu yang paling kamu pinginin itu yang akhirnya kamu masak di rumah.
> Sambil bayangin, bahwa kamu dah hemat sekian rupiah dengan masak sendiri,
> nanti juga jadi semangat sendiri kok buat masak insya Allah.” Zaenab
> tertawa mendengar penjelasanku.
>
> “Ya, seperti dulu yah. Waktu kita kuliah dulu. Kamu memang tidak berubah
> Nisa, selalu sukses menerapkan sistem kebut semalam dan metode instan.
> Sayangnya aku tidak seperti kamu. Aku tidak terbiasa bersikap cuek seperti
> itu. Aku terbiasa merencanakan segala sesuatu sebelumnya secara seksama
> dan penuh perhitungan.”
>
> “Iyah, aku tahu. Berarti sekarang kamu sebenarnya sudah beres semua dong
> dengan urusan rumah?” Terus terang, sebenarnya aku sedikit tersinggung
> dikecilkan seperti itu. Tapi itu memang kenyataan. Semua teman di kampus
> dulu tahu bagaimana santai dan uniknya cara aku belajar dan mempersiapkan
> segala sesuatunya. Pada akhrinya aku tersenyum, bersyukur masih ada yang
> mengingatkan betapa bodohnya aku selama ini dengan segala kebiasaan buruk
> yang ternyata masih saja aku terapkan. Aku memang orang yang tidak pernah
> bersedia harus merasa dikejar-kejar “setoran” dalam mengerjakan segala
> sesuatunya meski waktu yang tersedia memang sudah diambang batas akhir.
> Mungkin orang lain akan mengatakan aku orangnya slow dan moodi banget. Ah,
> terserah orang lain mau bilang apa.
>
> “Nah itu dia Nis,” Zaenab memotong lintasan pikiran yang ada di kepalaku.
> Dengan suara menggebu Zaenab melanjutkan curhatnya.
>
> “Aku bosan dengan segala sesuatu yang sebenarnya sudah aku hapal
> kejadiannya. Aku sudah hapal dengan semua tetek bengek urusan rumah
> tanggaku. Jam segini masak, jam segini ngepel, jam segini nyuci baju. Wah,
> aku sudah hapal dan ternyata hapalanku ini tidak bertambah dan tidak juga
> membuatku pandai. Aku jenuh jadi ibu rumah tangga, dan aku heran mengapa
> kamu belum jenuh dengan pekerjaan kamu saat ini Nis?” PLASHHH!! Seguyur
> air dingin rasanya seperti tersiram ke depan mukaku siang itu. Bagaimana
> mungkin muslimah “seikhlas” Zaenab bisa merasa jenuh dengan tugas dari
> pekerjaan mulia yang dahulu selalu dia agung-agungkan dan dia anjurkan
> pada banyak teman dan adik kelas kami?
>
> “Ayo Nisa…. Aku tahu kamu lebih mencintai bersenang-senang daripada
> terperangkap dalam kurungan rumah yang selalu memberi pekerjaan yang tiada
> pernah berhenti? Jujur.. kamu bosan juga kan?” Aku terdiam mendengar
> pertanyaannya. Entah harus menjawab apa. Bosankah aku? Kini justru aku
> yang berbalik bertanya pada diriku sendiri.
>
> “Zaenab, bukankah dibanding aku, kamu punya lebih banyak kegiatan dakwah
> lain di luar rumah? Iya kan? Coba deh ingat-ingat. Kamu mengkoordinasi
> ibu-ibu pengajian di sekitar rumah kamu setiap dua kali seminggu di
> masjid. Kamu juga mengajarkan anak-anak kecil di sekitar rumah kamu untuk
> mengaji setiap sore? Kamu salah bertanya seperti itu padaku. Aku bahkan
> tidak memiliki semua kegiatan itu. Aku sangat jarang ke luar rumah dan
> tidak punya banyak teman dalam pergaulan. Temanku hanyalah buku-buku
> bacaan dan internet. Aku bahkan tidak ikut kegiatan organisasi apapun di
> luar rumah. Pun tidak punya amanah apapun di luar rumah sana.” Sambil
> mengatakan semua fakta itu padanya, aku seperti tersadarkan pada sebuah
> kenyataan yang sebenarnya sedang aku genggam. Yup. Ternyata aku memang
> seorang upik abu yang tidak pernah bisa jadi Cinderella. Aku adalah upik
> abu sesungguhnya dan tampaknya akan selamanya. Tapi tidak ada waktu untuk
> mengenang kemalangan. Karena di seberang teleponku itu mulai terdengar
> suara isak tangis tertahan dari Zaenab. Ya Allah, dia rasanya memang
> sedang mengalami sebuah kebosanan jadi ibu rumah tangga yang sangat
> dasyat.
>
> Kebosanan Zaenab sangat bisa aku mengerti. Coba bayangkan jika kalian
> setiap hari mengerjakan sebuah pekerjaan yang sama terus menerus tapi tak
> ada sebuah penghargaan apapun yang bisa diperoleh. Tidak ada sebuah
> standard gaji atau penghasilan tertentu bagi sebuah profesi ibu rumah
> tangga.
>
> Taruh permisalan seperti ini. Sepanjang hari merapikan rumah dan
> mempersiapkan diri menyambut suami tercinta pulang dari kantor. Dalam
> benak, sudah terbayang bahwa suami akan bahagia mendapati rumah dalam
> keadaan rapi dan wangi dan seluruh anggota keluarga dalam keadaan bersih
> dan rapi. Tapi di lima menit terakhir penantian itu, tiba-tiba si bungsu
> menumpahkan susu di atas karpet dan bekasnya melebar ke seluruh permukaan
> karpet; karena kaget dia menangis histeris meraung-raung. Sementara
> kakaknya memecahkan piring yang berisi makanan berkuah di atas lantai
> hingga bukan hanya beling yang tersebar tapi juga nasi dan seluruh
> personilnya ikut mengotori lantai dan baju yang dia kenakan. Sementara
> seekor kucing berhasil melarikan ikan goreng yang menjadi lauk pauk
> satu-satunya untuk makan malam disamping gulai daun singkong dan sambal.
> Di tengah semua kepanikan itu, mustahil jika kalian tidak merasakan hawa
> kemarahan yang langsung memuncak ke atas ubun-ubun sehingga wajah yang
> semula disetel manis menjadi masam dan penampilan yang rapih berubah
> menjadi kusut masai. Ditunjang dengan rasa lelah mengurus rumah yang
> semula tertahan di dalam dada saja, kini muncul semua ke permukaan. Di
> saat itulah suami tercinta pulang. Tanpa bertanya langsung mengedarkan
> pandangan memperhatikan semua kejorokan dan kekurangan yang terjadi. Apa
> yang dikerjakan sepanjang hari ternyata tidak ada yang bisa dibanggakan
> sama sekali. Pun di depan orang terkasih sekalipun. Tidak ada lagi yang
> tahu sekarang bagaimana usaha sepanjang hari untuk bisa menjadi sempurna
> karena yang terlihat adalah hasil akhir yang sudah amburadul. Malu, sedih
> dan kecewa. Profesi ibu rumah tangga memang adalah profesi yang menuntut
> kesempurnaan, tapi tak ada piala atau kompensasi materi untuk kesempurnaan
> itu. Hanya memberi tidak boleh mengharapkan kembali.
>
> Sekarang, di seberang telepon aku sedang mendengar curahan hati seseorang
> yang lelah dan bosan menjalani tugas berat tersebut. Aku tidak mampu
> berkata apa-apa mendengar semua keluh kesah Zaenab. Mungkin yang terbaik
> adalah menjadi pendengar yang baik yang tidak memberi komentar apa-apa
> selain mendengar semua keluhannya.
>
> “Aku bosan banget jadi ibu rumah tangga. Rasanya setiap hari aku mengalami
> sebuah tindakan pembodohan diri sendiri.” Hm, siapa coba yang bisa tetap
> diam mendengar penuturan seperti ini? Aku sebagai seorang wanita yang
> menjalani profesi ibu rumah tangga tentu tahu pahit getir profesi yang aku
> jalani ini. Tapi biar bagaimanapun, ada sebuah loyalitas yang tumbuh tanpa
> aku sadari untuk membela profesiku. Mungkin membela diriku sendiri
> tepatnya.
>
> “Pembodohan? Aku nggak ngerti apa yang kamu maksud dengan pembodohan diri
> sendiri Zaenab?” Zaenab berhenti menangis. Suaranya mulai terdengar
> terkendali.
>
> “Aku tadi telepon-teleponan dengan teman. Wah, hebat. Dia sudah sangat
> berhasil di kantornya. Aku denger cerita dia dan kasus-kasus yang dia
> hadapi, penyelesaian masalahnya. Aku bukannya iri Nisa tapi aku merasa
> bahwa aku juga bisa menangani hal-hal seperti itu. Aku juga mampu kan Nis?
> Tapi apa yang aku lakukan sekarang? Cuma ngepel, nyuci, masak,
> membersihkan piring dan pipis si kecil. Itu kan namanya pembodohan? Aku
> kadang malu sama ayahku. Sekian lama menyekolahkan aku, tapi akhirnya aku
> berakhir seperti ini. Buat apa coba semua prestasi yang pernah aku raih
> selama ini? Semuanya mubazir kan Nis?” Suara Zaenab terasa memburu karena
> sarat dengan emosi. Mungkin unek-uneknya selama ini dia pendam sendiri dan
> baru bisa dikeluarkan sekarang sehingga rasanya berpacu dengan waktu untuk
> mengatakan segalanya.
>
> “Carikan aku pekerjaan Nisa. Tanya suami kamu jika di kantornya ada
> lowongan.” Akhirnya di ujung keluhan Zaenab meluncurkan sebuah permintaan
> yang membuatku terhenyak.
>
> “Bagaimana dengan suami kamu Zaenab? Apakah dia sudah mengijinkan kamu
> bekerja? Lalu anak-anak?” Aku bertanya hati-hati.
>
> “Hmm… Akang sudah mengijinkan. Dia juga bingung harus memberi apa lagi
> karena aku mengeluh bosan padanya. Aku memang asli bosan Nisa di rumah
> terus tanpa menghasilkan prestasi apa-apa.” Aku terdiam untuk berpikir.
>
> “Aku tahu suamiku punya sebuah proyek. Tapi ini proyek sukarela, tidak ada
> uangnya, apakah kamu mau bergabung bersama kami?” Zaenab menanyakan
> tempatnya dan aku menyebut sebuah tempat di pinggiran kota Jakarta.
>
> “Hmm, berat Nisa. Aku mau saja bergabung karena pasti bermanfaat buatku
> dan aku bisa meningkatkan lagi semua kemampuanku yang selama ini terbabat
> habis. Tapi, kalau tidak ada uangnya, berat rasanya. Bukannya mata duitan,
> tapi uang itu perlu sih Nisa, paling tidak ada sesuatu yang bisa aku
> tunjukkan pada orang lain apa yang aku hasilkan selama aku bekerja.” Aku
> terdiam dan permbicaraan berakhir tidak lama kemudian dengan meninggalkan
> keterpanaan di kepalaku.
>
> Pembicaraan terakhirku dengan Zaenab ini membuatku berpikir. Pada
> akhirnya, setiap manusia memang akan diuji dengan apa yang dipilihnya
> dalam menjalani hidup ini. Yang belum bisa aku mengerti sampai detik ini
> adalah, bagaimana ujian terhadap pilihan itu bisa begitu dasyat
> mempengaruhi seseorang dan merubah apa yang semula sudah dipilih dan
> diyakininya dengan teguh.
>
> Dulu Zaenab bukan dengan terpaksa berkomitment untuk ikhlas menjalani
> profesi ibu rumah tangga dan sedikit banyak hal itu memberi imbas semangat
> padaku untuk mengikuti jejaknya. Zaenab memang salah satu teman muslimah
> yang aku kagumi. Darinya aku belajar untuk bisa bersikap ikhlas. Sungguh,
> ujian terberat bagi profesi menjadi ibu rumah tangga adalah mengembangkan
> rasa ikhlas dalam diri.
>
> Sosok Zaenab dalam imajinasiku memang sudah berkembang pesat menjadi
> sangat mengagumkan. Mungkin karena aku sudah menambahkannya dengan sebuah
> cita-cita lain dalam anganku yang mencari figur yang layak ditiru. Tapi
> hari ini, lukisan imajinasi itu rasanya perlahan mulai retak dan
> retakannya berjatuhan berkeping-keping. Ada sebuah godaan untuk mulai
> melihat diri sendiri. Kenapa aku bisa bertahan untuk tetap berada di dalam
> rumah? Berapa kali aku merasa bosan dengan kehidupanku yang sangat monoton
> ini? Seberapa jauh proses pembodohan seperti yang dirasakan oleh Zaenab
> yang sudah aku alami sebenarnya? Duh…. Astaghfirullah. Susah payah
> rasanya menghalau pertanyaan-pertanya an yang hadir tanpa aku sadari ini.
> Tubuhku gemetar menahan laju pertanyaan itu agar tidak terus meraja lela
> dan akhirnya mengajakku menjadi sosok yang tidak mampu bersyukur. Bukankah
> kelak penghuni neraka akan banyak dihuni oleh wanita yang tidak mampu
> bersyukur terhadap kehidupannya dalam rumah tangganya sendiri?
> Astaghfirullahal Adziim.
>
> “Ibu.. ibu…” Sebuah suara nyaring dari gadis kecilku terdengar seiring
> dengan sebuah genggaman jemari kecil di pergelangan tanganku. Di depanku
> kini tampak gadis kecilku sedang tersenyum dengan rambut berantakan dan
> sebuah sisir di tangannya.
>
> “Sisiri aku bu.” Tangan mungilnya tampak menyorongkan sisir. Perlahan aku
> sisiri rambutnya yang jumlah helainya masih sangat tipis sebenarnya,
> sehingga jika tidak disisirpun angin akan merapikannya dengan segera.
> Setelah rapi, masih dengan wajah tersenyum, gadis kecilku tetap berdiri di
> hadapanku. Tidak ada tanda-tanda dia ingin segera berlalu untuk bermain
> dengan mainannya.
>
> “Ada apa nih? Kok diam di depan ibu saja yah?” Aku menyapanya dan mencoba
> untuk meraih tubuh mungilnya ke dalam pelukan. Gadis kecilku tidak
> berontak. Usianya baru tiga tahun dan dia sangat manja dan sering tampak
> menikmati curahan perhatian yang berlimpah yang ditujukan bagi dirinya.
>
> “Aku mau ngaca.” Singkat dia menjelaskan alasan kenapa dia tidak hendak
> pergi dari sisiku. Ngaca yang dimaksudnya adalah bercermin.
>
> “Ngaca? Dimana?” Aku menoleh kiri kanan mencari cermin dan tidak berhasil
> menemukannya. Cermin di rumahku memang hanya ada dua, di kamarku dan kamar
> anakku yang sulung, sedangkan aku saat ini ada di ruang keluarga.
>
> “Aku mau bercermin di mata ibu. Lihat, di mata ibu ada aku.” Subhanallah.
> Kini gadis kecilku itu benar-benar aku peluk kian erat. Untaian kalimatnya
> membuatku melayang tinggi mencapai awan putih di langit keharuan. Mungkin
> yang aku alami selama menjadi ibu rumah tangga memang hanya sebuah
> pekerjaan yang tidak pernah menghasilkan uang sama sekali. Pun memang
> profesi yang tidak menghasilkan prestasi yang membanggakan atau prestise
> yang mengharumkan namaku. Tapi kebahagiaan memang tidak bisa diukur dari
> ukuran baku yang sama pada setiap manusia. Aku bahagia dengan apa yang aku
> peroleh saat ini. Dan hari itu, siapapun tidak bisa merasakan kebahagiaan
> yang meluap yang aku peroleh dari gadis kecilku yang manis.
>
> “Iyah. Di mata ibu memang selalu ada kamu, karena di hati ibu, kamu adalah
> permata hati yang selalu ibu sayang selamanya.”
P.S: hanya bisa Meneruskan saja dari Milis(Semoga bisa jadi Renuangan Kita semua)




Renungan yang sanga mengesankan…
tapi aku punya pandanngan…saat kita memilih menjadi seorang ibu rumah tangga…jangan membanding-bandingkan antara kita dengan orang lain…tapi lakukan semua dengan iklas…dan hati yang bahagia.Setiap orang punya persepesi…yang kadang malah membingungkan…bahkan membuat kita membanding-bandingkan.Dalam setiap hal yang kita lakukan…lakukan dengan kasih dan cinta aku yakin akan dibalas dengan cinta juga oleh mereka.
Salam…thanks sudah berbagi!
Oleh: kweklina on November 14, 2008
at 11:17 am
tulisan panjang, tapi memberi pencerahan
kasih ibu sepanjang jalan dan selama hayat
dikandung badan
Oleh: mikekono on November 15, 2008
at 8:08 am
panjang banget…
baca ulang..
ATM:
Oleh: easy on November 17, 2008
at 3:56 am
Ibu memang selalu menjadi sosok yang menenangkan..
ada seuntai rindu yang dalam ketika aku berada jauh dari ibu..
Oleh: easy on November 17, 2008
at 4:12 am